DESIGN THINKING…

Senin, tanggal 21 Maret 2011 kemarin, mata kuliah CI kedatangan bintang tamu atau juga dosen tamu yaitu mas Adi Panuntun. Siapakah beliau? Beliau adalah satu dari sedikit orang yang memiliki pola pikir kreatif dan diluar “pemikiran” manusia biasa. Beliau merupakan produser film, dan juga pencetus dari perusahaan visual 9 Matahari. Beberapa karya besarnya adalah film cin(T)a dan video mapping di kota tua Fatahillah, Jakarta. Menarik bukan? Lalu apa saja yang beliau sampaikan pada kuliah kemarin? berikut review yang akan saya coba sampaikan.

DESIGN THINKING!

Design merupakan hal yang dapat digunakan sebagai tindakan untuk memcahkan masalah dan menemukan peluang baru. Design thinking adalah suatu metodologi praktis untuk mencari solusi kreatif dari permasalahan atau isu untuk mencari solusi/hasil yang lebih baik. Proses design thinking menggabungkan empati, kreativitas dan rasionalitas untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan menjalankan bisnis. Tidak seperti berpikir analitis, berpikir desain adalah sebuah proses kreatif yang berbasis di sekitar membangun ide.Tidak ada penilaian, benar maupun salah dalam berpikir secara design. Hanya ada faktor-faktor seperti rasa takut akan kegagalan yang dapat membatasi proses berpikir secara kreatif. Oleh karena itu kita harus berpikir “out of the box” untuk dapat menghasilkan solusi kreatif dari suatu permasalahan.

Seorang desainer melakukan pengamatan, mendengarkan kisah-kisah, dan mendapatkan inspirasi langsung di lapangan. Desainer tidak bisa mendapatkan jawaban langsung apa yang dibutuhkan komunitas. Seringkali orang tidak tahu solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tanggung jawab desainerlah untuk mendesain solusi inovatif, yang akan dikomentari oleh orang-orang, mungkin pada awalnya kurang mengenakkan, tapi pada akhirnya akan membuahkan hasil diluar perkiraan semua orang. Oleh karena itulah, proses desain akanharus mengandalkan intuisi dan imajinasi desainer serta rasa percaya diri akan hasil akhir dari berpikir secara desain.

Seperti yang dicontohkan adalah:

dan 

Teh Botol yang awalnya bernama Teh Cap Botol, dijual pertama kali tahun 1940 dalam bentuk kemasan teh kering siap saji. Teh berjenis jasmine tea (campuran teh hijau dan bunga melati) sebenarnya terasa enak dan segar, hanya saja cara-cara meracik minuman yang buruk kerap kali menenggelamkan cita rasanya. Untuk mengatasi masalah ini, keluarga Sosrodjojo merancang kampanye mengenai takaran meracik teh yang pas, namun kampanye ini gagal disebabkan masyarakat ketika itu menganggap meracik teh dengan baik bukanlah sebuah hal yang penting. Akhirnya timbul ide untuk menjual teh ini dalam kemasan botol yang siap diminum. Tapi kisah ini tidak berjalan lurus seperti halnya sebuah garis lurus. Karena saat pertama kali Sosro diluncurkan, konsumen menganggapnya aneh, “udah dimasukin botol pakai pendingin lagi” . Zaman dulu box pendingin/kulkas bukanlah hal lazim. Namun pelan-pelan dengan promosi yang tepat, teh Sosro mulai menunjukkan kisah suksesnya. Masyarakat mulai merasa mendapatkan manfaat berupa praktis, enak dan dingin. Sekarang minum teh pakai botol bukanlah hal yang tabu lagi.

Kisah sukses ini berawal dari sosok Tirto Utomo(alm.) yang menggagas berdirinya Aqua. Pria kelahiran Wonosobo, 9 Maret 1930 ini menggagas lahirnya industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia melalui PT Golden Mississippi pada tanggal 23 Pebruari 1973. Produk pertamanya saat itu adalah Aqua botol kaca 950 ml yang kemudian disusul kemasan AQUA 5 galon, pada waktu itu juga masih terbuat dari kaca. Pada awal kemunculannya, Aqua tidak langsung menuai kisah sukses nya seperti sekarang ini. Bahkan tahun 1974 sampai 1978 adalah masa-masa sulit bagi perusahaan ini. Saat itu permintaan konsumen masih sangat rendah. Masyarakat kala itu masih “asing” dengan air minum dalam kemasan. Apalagi harga 1 liter Aqua lebih mahal daripada harga 1 liter minyak tanah. Aqua tidak akan menuai kisah sukses bila langsung menyerah saat itu. Dengan berbagai upaya dan kerja keras, akhirnya Aqua mulai diterima masyarakat luas. Perlahan tapi pasti, merk ini semakin menorehkan kisah sukses nya. Bahkan tahun 1978, Aqua telah mencapai titik BEP. Dan saat itu menjadi batu loncatan kisah sukses Aqua yang terus berkembang pesat. Pada saat itu, produk Aqua ditujukan untuk market kelas menengah ke atas, baik dalam rumah tangga, kantor-kantor dan restoran. Namun sejak tahun 1981, Aqua telah berganti kemasan dari semula kaca menjadi plastik sehingga melahirkan berbagai varian kemasan. Hal ini menyebabkan distribusi yang lebih mudah dan harga yang lebih terjangkau sehingga produk Aqua dapat dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Di tahun 1981 ini juga, Aqua mengganti sumber airnya dari air sumur bor ke air dari mata air pegunungan. Bahkan dalam segi kemasan pun, Aqua telah menjadi pelopor. Botol plastiknya yang semula berbahan PVC yang tidak ramah lingkungan, sejak 1988 telah diganti menjadi bahan PET. Padahal saat itu di Eropa masih menggunakan bahan PVC. Selain itu desain botol Aqua berbentuk persegi bergaris yang mudah dipegang telah menggantikan desain botol bulat Eropa. Bahkan botol PET ciptaan Aqua ini telah dijadikan standar dunia. Bahkan almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam kemasan dan masuk dalam “Hall of Fame” . Dan berdasarkan survey Zenith International, sebuah badan survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik, dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang membanggakan untuk produk dalam negeri.

Sekarang mari kita coba mengaplikasikan proses design thinking..

Pertanyaannya adalah…Bagaimana menghubungkan BOARD MARKER dan APEL???

dan 

Bisa dilihat kan kesamaan dari dua benda ini?? yap, keduanya sangat memiliki variasi wana yang berbeda-beda, oleh karena itu, apel mungkin menginspirasi penciptaan boardmarker, dengan pemikiran atau masalah awal yaitu bagaimana sebuah benda yang sama dapat memiliki variasi yang berbeda namun tetap memiliki satu fungsi yang sama, sebagai buah-buahan yang dapat dimakan.

Lalu sekarang, mari kita mencoba memecahkan maslah dari bagaimana respons dari 2 kelompok berbeda yaitu Traditional Business Strategy dan Innovation and Design Class mengenai suatu issue future retail marketplace.

DalamTradisional Business Strategy lebih membaca trend melalui report analitis, melakukan analisa yang berbasis pada rasional, objektif, dan realita yang dapat dikuantifikasi. Hasil yang diambil untuk memutuskan trend untuk future retail marketplace melalui logika dan angka-angka. Sedangkan dalam Innovation dan Design Class tidak terlalu mengandalkan analisa trend research dan lebih berbasis pada kenyataan, dan pengalaman yang lebih subjektif yang dinilai dari lingkungan sosial. Metode yang digunakan adalah eksperimen untuk mendapatkan peningkatan hasil, seperti turun langsung ke lapangan. Sehingga yang mengambil keputusan akhir adalah emotional dan experiences.

Advertisements

About muhammad azmi

saya mahasiswa tingkat 3 SBM-ITB yang insyaallah lulus tahun 2011 ini (amin). hobi: denger musik, main musik, main PS3 di kamar dien, dan saya cinta AC MILAN. thank you bandung! View all posts by muhammad azmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: